Kali ini saatnya kita bahas mengenai virtual reality. mulai dari cara cara kerja hingga bahaya atau tidaknya vr ini.
CARA KERJA
Untuk mewujudkan suasana yang menyerupai dunia nyata, virtual reality menggunakan peralatan-peralatan yang dinamakan glove, headset, dan walker. Glove adalah peranti masukan yang dapat menangkap gerakan tangan dan mengirimkan informasi gerakan ke sistem virtual reality. Headset adalah peranti yang berfungsi untuk memonitor gerakan kepala. Selain itu, peranti inilah yang memberikan pandangan lingkungan yang semu kepada pemakai sehingga seolah-olah pemakai melihat dunia nyata. Walker adalah peralatan yang dimaksudkan untuk memantau gerakan kaki. Peralatan ini dapat digunakan untuk mengatur kaki pemakai agar merasakan beban seperti kalau melangkah dalam dunia nyata. Sebagai contoh, kaki akan terasa berat untuk melangkah ketika pemakai sedang menghadapi dunia semu berupa rawa atau medan berlumpur.
Cara kerja sistem virtual reality pada prinsipnya adalah seperti berikut. Pemakai melihat suatu dunia semu, yang sebenarnya berupa gambar-gambar yang bersifat dinamis. Melalui perangkat headphone atau speaker, pemakai dapat mendengar suara yang realistis. Melalui headset, glove dan walker, semua gerakan pemakai dipantau oleh sistem dan sistem memberikan reaksi yang sesuai sehingga pemakai seolah merasakan sedang berada pada situasi yang nyata, baik secara fisik maupun secara psikologis.
Lebih spesifik lagi, virtual reality dibagi menjadi 3 berdasarkan sensornnya, sepeeerti berikut :
Head tracking
Head tracking adalah disaat kita menggunakan VR headset, gambar yang berada tepat pada pandangan kita, selagi melihat keatas, kebawah dan melihat ke kiri dan kanan, Sistem tersebut disebut dengan 6DoF (Six degrees of freedom).
Terdapat beberapa komponen internal yang berbeda yang di tempatkan untuk menghasilkan head tracking, antara lain gyroscope, accelerometer dan magnetometer. Jika melihat perangkat Sony PSVR, mereka menambahkan LED pada bagian headset untuk membantu 360 derajat head-tracking sedangkan pada perangkat Oculus juga terdapat LED tetapi tidak menghasilkan cahaya seperti kepunyaan Sony.
Head-tracking lebih efektif jika memiliki latency kecil, mengapa? contohnya 50ms untuk mengurangi dan mendeteksi lag atau keterlambatan antara kita menukar arah pandang sembari pertukaran gambar pada display. Lag ini tentunya menjadi tantangan dan perlu menjadi perhatian bagi kita yang berkeinginan membeli perangkat VR, salah satu perangkat VR dari Oculus sudah memperkecil lag-nya hingga 30 millisecond.Motion tracking
Motion tracking sampai saat sekarang masih dalam tahap pengembangan. Tetapi baru-baru ini Oculus memperkenalkan kontroller melalui perantara wireless yang di desain agar penggunanya merasakan seolah olah menggunakan kedua tangannya saat menggunakan VR. Kontroller tersebut dibekali sensor yang dapat mendeteksi pergerakan seperti pointing dan waving.
Cara kerja virtual reality dengan fitur motion tracking mungkin yang lebih familiar dan mendekati Xbox controller dan joystick PC, voice kontroller, Viruix Omni yang mana dapat menstimulasi seolah olah kita berjalan didalam apa yang terlihat atau game itu sendiri secara langsung.Eye Tracking
Eye tracking bisa dibilang tujuan akhir dari VR. Sekarang ini Rift, Vive atau PS VR belum mendukung Eye Tracking, tetapi ini bisa menjadi tujuan dari pengembangan headset VR seperti yang diperkenalkan oleh FOVE’s.
Cara kerjanya, pada bagian dalam headset terdapat sensor infrared yang memonitor mata kita jadi perangkat tersebut mengetahui kemana arah pandang dari penggunanya saat berada di virtual reality. Kelebihan dari Eye Tracking jika digunakan disaat bermain game adalah karakter yang kita mainkan bisa beraksi kearah mana mata memandang, maka diharapkan penggunya mendapatkan pengalaman yang lebih realistis.
VR? BAHAYA NGGAK YA?
Sebelum bahas negatif, mari bahas positifnya. positifnya :
- Berinteraksi dalam dunia virtual dengan tampilan 3D, sehingga lingkungan tampak sangat nyata
- Menonton film 3D layaknya di bioskop
- Bermain game, seakan-akan di dunia nyata
- Terbang, menembak atau mengeluarkan api dari tangan (tergantung dari game yang dimainkan)
- Wisata virtual melalui Google Earth.
yap, memang banyak juga positifnya. tapi jangan lupa, setiap hal pasti ada positif dan negatifnya. mari masuk ke materi. negatif :
- Berdasarkan banyak manfaat yang didapat, pengguna akan kecanduan dunia yang diciptakan teknologi VR dibandingkan dunia nyata
- Saking asiknya, pengguna akan menghabiskan banyak waktu untuk bermain
- Penggunaan yang terlalu lama dapat mengganggu kesehatan mata
- Munculnya penyakit Cybersickness. Penyakit ini diderita akibat penggunaan smartphone atau gadget yang berlebihan. Gejala dari penyakit ini adalah pusing, mual, serta mengganggu keseimbangan saat menggunakan gawai. Penyakit ini terjadi saat kita melihat pergerakan layar, namun pergerakan tersebut tidak dirasakan, khususnya saat bermain game balap atau menggulung permukaan layar dengan cepat. Menurut Thomas Stroffregen, yaitu seorang profesor di Universitas Minessota yang melakukan studi Cybersickness menyebutkan bahwa semakin realistis tampilan gambar, maka semakin mudah terserang Cybersicknes
- Terkadang, pengguna masih merasakan sensasi dunia virtual walaupun sudah berada di dunia nyata.
nah, mari kita soroti cybersickness para teknomania sekalian. Menurut para ilmuwan, cybersickness memengaruhi sektar 80 persen populasi penggunasmartphone dan gadget. Parahnya lagi, cybersickness atau dampak keseringan main game di gadget menimbulkan perasaan pusing, mual dan juga menganggu keseimbangan seseorang saat ataupun setelah menggunakan gadget.
Mirisnya lagi, keadaan ini mirip seperti mabuk atau motion sickness. Bedanya, motion sickness disebabkan karena tubuh merasakan pergerakan di otot dan telinga bagian dalam, tapi tidak melihatnya. Sementara, cybersickness terjadi saat kita melihat pergerakan di layar tetapi tidak merasakannya.
Contoh paling nyata ialah saat bermain game balapan atau game yang pergantian gambarnya cepat atau saat menggulung layar dengan cepat.
Faktor lain yang memicu cybersickness adalah seberapa realistis tampilan layar game atau layar gadget, maka semakin mudah juga seseorang terkena cybersickness.
Beberapa studi yang mempelajari mengenai cybersickness menemukan bahwa perempuan lebih mudah terkena cybersickness dibandingkan pria. Orang-orang dengan kepribadian Tipe A atau orang-orang yang percaya diri dan tegas juga lebih rentan
terkena cybersickness, begitupun dengan gamer yang menghabiskan waktunya bermain game di gadget.
HAHAHA... bahaya ya ternyata. bukan berarti kita tidak boleh menggunakan teknologi, tapi kita harus mengontrol diri.
Sumber gambar :
- https://cdn.techinasia.com/wp-content/uploads/2015/05/EyeTrackingFOVE.png
- http://s.hswstatic.com/gif/vr-gear-8.jpg
- http://www.stt-systems.com/images/single/vr-grabber_2.jpg?1427302919
Sumber materi :
- http://virtualofworld.blogspot.co.id/2016/04/cara-kerja-virtual-reality.html
- http://montoska.com/penjelasan-cara-kerja-virtual-reality-vr/
- http://www.duniaku.net/2016/06/25/dampak-negatif-kacamata-vr/
- http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/11/kecanduan-main-gadget-waspada-cybersickness
- dan tentunya otak admin sendiri :)
9J / 37
01-285-370-7




